About Me
- mujiantono
- Saya adalah seorang guru Matematika di sebuah sekolah swasta di Bontang Kalimantan Timur. Saya sangat senang dengan profesi saya sebagai guru, karena disini saya mendapatkan banyak tantangan, mendapatkan banyak ilmu, banyak karakter dan banyak lagi. Selain itu banyak dinamika yang terjadi setiap saat.
Selasa, 06 Juli 2010
"Harum Mewangi"
oleh : Ratna Dewi Idrus
Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yaasin 36:36)
*****
"Ya Allah, siapakah gerangan sahabat sejati yang Engkau pilihkan untukku?, yang mau menemaniku merenda hari-hari untuk beribadah kepada-Mu, yang mau berbagi suka dan duka dalam mengharungi hidup ini, yang menjadikanku kokoh kuat dalam menegakkan kalimat-Mu, agar.. diriku lebih mensyukuri segala nikmat yang telah Engkau berikan, agar.. diriku lebih dekat kepada-Mu.."
Nisa tertegun mendengar do'a Ayuning di keheningan malam. Sahabatnya itu memintanya untuk menemani tidur karena orangtua Ayu ke luar kota. Do'a itupun usailah sudah, wajah Ayu bersemu merah ketika tahu Nisa terjaga dari tidurnya.
"Kamu mendengar do'aku Nisa?", Nisa tersenyum, "Apakah do'a itu yang s'lalu Ayu panjatkan pada Allah?", Ayuning diam, perlahan titik-titik embun jatuh dari kelopak matanya. "Aduhai sayang.." Ujar Nisa seraya merangkul sahabatnya, perlahan ia menyeka air mata itu, setelah agak tenang.
"Ayu.., apa yang menjadi keinginanmu adalah cita-cita seluruh wanita mukminat di dunia ini, namun jikalau ia belum terwujud, itu adalah rahasia Allah, Yang Menciptakan kita, bukankah Ia menciptakan makhluk-Nya menurut ukuran-ukuran yang telah ditetapkan? kita selaku hamba-Nya hanya bisa berusaha dan ikhtiar, dan hanya Allahlah yang menentukan.
Bukankah Ayu mencintai Allah?, rasa itu akan membuat Ayu yakin, Allah akan memilihkan yang terbaik untukmu. Demi Allah Ayu.., Allah Maha Adil terhadap hamba-hamba-Nya, karena itu, bersyukurlah bahwa Ia masih memberimu kesempatan untuk menjadi wanita yang lebih baik dari sekarang.
Ayu harus kuat dalam mengitari perputaran roda kehidupan ini, karena perkitarannya semakin hari semakin cepat. Jangan pernah berhenti sesaatpun, Ayu.. masih banyak yang perlu Ayu perhatikan, masih banyak yang memerlukan perhatianmu. Kita datang ke alam ini sendirian, Ayu.. dan kita juga akan pulang sendirian. Ayo.. jangan sedih-sedih lagi, ya.. mana senyum manisnya?.."
Ayu tersenyum pada Nisa, dari bibir mungil itu keluar kata, "Tolong do'akan Ayu ya.." Nisa membalas senyuman tulus itu, "Ia, Ayu.. Nisa do'akan" Mereka berdua sujud syukur pada Allah, melanjutkan malam itu dengan tenggelam akan kerinduan beribadah kepada Allah. Semenjak malam itu, Nisa lama tak bertemu Ayu, iapun maklum dengan kesibukan sahabatnya.
*****
Fikiran Ayu menerawang, matanya menatap lekat langit-langit kamar, seketika ia terjaga saat mendengar telpon berdering, kriiing.. kriing... Samar-samar terdengar suara ibunya berbicara, "Ayu?, dari siapa ya?, tunggu sebentar." Ibu bergegas ke kamarnya, "Ayu.., ada telpon dari Herman."
Ini sudah kesekian kali pemuda itu menelponnya, kalau sudah di udara, melayang.. lupa segala-galanya. Entahlah iapun tidak tahu kenapa, ada getar-getar halus yang menyusup ke relung hatinya saat berbicara dengan sosok insan yang satu ini, hampir tak sepatah katapun yang bernilai sia-sia.
Yang mereka bicarakan seputar mencarikan jalan agar anak-anak jalanan mampu mandiri tanpa meminta-minta, menanamkan ajaran tauhid agar anak-anak tersebut terbentengi dari pihak-pihak yang ingin meracuni fikiran mereka supaya berpindah agama, yach Herman punya kepekaan sosial yang tinggi, sangat peduli terhadap nasib hamba-hamba Tuhan.
Pemuda seperti inilah yang didambakan Ayu selama ini, dan rasa itu semakin kuat saat Herman berterus terang menyukai kelembutannya, kecantikannya, dan betah berlama-lama berbicara dengannya, ah.. tetapi apakah mungkin persahabatan mereka dapat berganti menjadi sebuah ikatan perkawinan? sedangkan ia tahu kenyataannya bahwa Herman telah mempunyai calon istri?! dan apa yang ditakutinya selama ini terbukti..
"Kamu baik-baik saja kan, Ayu?.. bulan depan saya akan menikah. Sebenarnya.. Herman mencintaimu Ayu, tetapi kami telah dipertemukan lebih dulu. Seandainya saja saya lebih dulu mengenalmu.., maafkan saya, Ayu.., " Ayuning tak sanggup mendengar kelanjutan kata-kata itu, air matanya jatuh tanpa suara, ia berusaha keras menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya, karena ia sadar semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah, jika ia tak terima sama artinya ia melawan takdir Allah.
Ayu masih belum mampu mengendalikan diri, tak pernah diduganya akhir hubungannya akan jadi begini. Herman, pemuda yang disangkanya adalah sahabat sejati yang dipilihkan Allah untuknya, ternyata.. perlahan dibukanya Diary Merah Jambu yang berisi ungkapan rasanya dengan pemuda itu.
*****
Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman pada hari kiamat kelak: Mana orang-orang yang saling mencinta karena Keagungan-Ku? Hari ini Ku-naungi mereka, dimana tidak ada naungan yang lain selain naungan-Ku. (HR. Muslim)
*****
Untukmu Sahabatku,
Sahabat, tahukah engkau?, nasihatmu menduduki peringkat pertama di hatiku. Kemarin.. engkau mau mendengar keluhanku, kemarin.. engkau beri jiwaku tetesan embun, dan kemudian.. kau tinggalkan aku.
Akhirnya, diujung batas kesendirian ini, aku temukan satu jawaban, bahwa kehidupan ini akan terasa indah, jika kita senantiasa dekat dengan Allah, Ya Allah... Sahabat, kini kau datang lagi menghampiriku, dan bertanya, "Bagaimana khabarku saat ini?", sambil tersenyum aku berkata, "Alhamdulillah...", dan aku terharu saat mendengar, bahwa engkau sayang padaku.
Wahai sahabatku, janganlah engkau bosan untuk menasihatiku, jangan pula bosan untuk menyayangiku, bukankah kehidupan ini akan terasa indah jika kita saling sayang?, saling cinta?, Mencintai karena Allah. Sahabat, mencintai menjadikan kita kuat untuk tetap berpegang pada tali Allah, dan mari kita tebarkan rasa cinta ini ke segenap penjuru bumi, agar senantiasa damai hati insani.. Semoga Allah membalas segala kebaikanmu padaku, Sayangku s'lalu untukmu.
Perlahan Ayu menutup Diarynya, air mata mengucur deras dari kelopak matanya. "Ya Allah.. kenapa rasa ini harus ada?, bagaimana mungkin aku memikirkan seseorang yang bukan Engkau takdirkan untukku?!."
*****
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah 2:216)
*****
Dengan Nisalah Ayu selalu berbagi cerita suka dukanya, begitupun sebaliknya. "Semua telah berakhir, Nisa!, aku harus menerima kenyataan bahwa dia bukanlah untukku, walau terkadang aku masih berharap Allah akan merubah segalanya, namun kecintaanku pada-Nya membuat aku yakin, bahwa ini adalah yang terbaik yang diberikan-Nya.
Sebenarnya aku menaruh harapan besar pada hamba Allah yang sholeh itu, untuk menjadi sahabat yang dapat kuajak bersama mengelilingi perputaran roda ini, bagaikan Matahari dan Bulan yang silih berganti menerangi alam, menjadi khalifah bagi insan taqwa di bumi ini.
Namun sekali lagi aku sadar, apa yang menurutku baik belum tentu baik menurut-Nya, aku tidak tahu apa-apa, sedangkan Allah Maha Mengetahui segalanya. Yang terpenting bagiku kini, menjalani hidup ini bagai air yang mengalir, jika tiba saatnya nanti, insya Allah." Kata-kata mutiara itu meluncur deras dari bibirnya, terdengar begitu tegar,
"Apakah pemuda itu tahu perasaanmu, Ayu?," tanya Nisa. Ayuning tersenyum. "Ia tahu, Nisa.., dari perbincangan kami yang panjang, dari persahabatan kami yang cukup lama, aku yakin ia juga merasakan hal yang sama, tapi sudahlah.. Pemuda itu lebih dahulu mengenal wanita itu daripadaku, ia juga memutuskan untuk menikahinya karena petunjuk Allah. Semoga Allah memberkahi pernikahannya dan melimpahkan keberkahan atas pernikahannya." "Aamiin", ucap Nisa.
"Mungkin wanita itu lebih baik dan lebih taqwa dariku, ya Nisa?." Sebelum sempat Nisa berkomentar, Ayu telah meralat ucapannya. "Tapi bukankah yang berhak menilai baik dan taqwanya seseorang hanyalah Allah?!.." "Iya, Ayu.." Nisa membenarkan ucapan sahabatnya. "Eh, sudah jam 10, kita ke rumah Ana yuk." Kedua sahabat karib itupun pergi ke rumah sahabatnya yang baru melahirkan. Di atas langit terlihat mendung.
*****
"Subhanallah lucunya..," mata Ayu dan Nisa berbinar melihat bayi mungil Ana, buah hati itu terlihat sehat, kulitnya putih dan rambutnya lebat sekali. Ayu sebenarnya ingin menggendong, tapi khawatir terjadi apa-apa karena si mungil baru berusia 5 hari, sementara di luar sana hujan turun dengan derasnya.
Ana begitu antusias menceritakan pengalaman melahirkannya, dan Ayu begitu menikmatinya, sesekali ia tampak merinding. Menghadapi masa-masa menstruasi saja sudah sedemikian menderita, apalagi kalau melahirkan ya?, bathinnya. Perasaan cemas itu semakin menjadi-jadi saat ia teringat Firman Allah yang menceritakan betapa sakitnya Maryam melahirkan Nabi Isa, a.s. sehingga ia berkata;
"Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan." (QS. Maryam 19:23)
"Sebenarnya aku pingin operasi caesar, supaya nggak sakit, tapi.. mulut ini mau bicara susahnya minta ampun, akhirnya kupikir sudahlah, pasrah saja..," Ana terlihat menarik nafas. "Melihat si mungil lahir, Subhanallah.. rasa sakitku mendadak hilang... Maha Besar-Nya Allah, ya.." Ungkap Ana melukiskan kebahagiaannya.
Mendengar penuturan sahabatnya, ada sesuatu yang menusuk hati Ayuning. Terkadang ia masih dihantui rasa takut jika nanti sudah menikah. Membayangkan dirinya akan hamil dan punya anak. Iapun menyadari kesibukannya dengan berbagai penelitian tumbuh-tumbuhan sampai terkadang lupa waktu, mengurus diri sendiri saja sudah kalang kabut, apalagi mengurus suami dan anak-anak? fikirnya.
Tapi rasa itu selalu ditangkisnya, bukankah melahirkan adalah kodrat perempuan?!, bukankah anak adalah rezeki yang tak ternilai?!, sementara banyak terjadi pasangan, akibat menunda kehamilannya di awal pernikahan, beresiko tinggi tidak dianugerahi keturunan.
Yach.., mungkin Allah murka pada mereka. "Duhai Allah, jadikanlah aku hamba-Mu yang bersyukur atas segala karunia-Mu," Ayu berdo'a dalam hati.
"Kok melamun sich Ayu?," tanya Ana menyadarkannya. "Eh.. bagaimana dengan pemuda itu?," Ayu sempat cerita pada Ana tentang kedekatannya dengan Herman, mendengar pertanyaan Ana, wajah Ayu berubah sendu, perlahan ia mulai menjelaskan,
"Ternyata dia bukan jodohku Ana, ia akan menikah bulan depan." Melihat kedukaan Ayu, Nisa berusaha mendinginkan suasana, "Ah.. kalau ada jodoh tak akan lari kemana..," serunya. "Hush.. aku belum siap jadi istri kedua!," sungut Ayu pura-pura marah, diiringi tawa kedua sahabatnya. "Kalau kamu sudah punya calon Sa?," tanya Ana hati-hati, "Nisa sich menunggu pangeran dari langit," ucapnya ringan.
Sejenak obrolan mereka terhenti melihat kehadiran suami Ana, ia begitu perhatian sekali terhadap istri dan anaknya. Karena tak ingin mengusik terlalu lama, iapun segera pergi.
"Punya suami itu enak lho Ayu, Nisa.. ada tempat untuk berbagi, beda saat masih sendiri, perasaan kita selalu gelisah, ada aja yang difikirkan. Bathin orang yang sudah menikah itu jauh lebih tenang, karena arah tujuan hidup mereka jelas."
"Ah.. Ana, kamu bisa aja!," celoteh Ayu. "Nggak percaya?, buktikan aja sendiri!," Kata Ana meniru iklan televisi, dengan maksud meyakinkan kedua sahabatnya.
Diam-diam Ayu asyik memperhatikan bayi mungil Ana yang tertidur lelap, ada rasa keibuan yang mendorongnya untuk memberanikan diri menggendong bayi itu, pelan dan sangat hati-hati. Nisa dan Ana membantu, keduanya saling berpandangan.
Saat si mungil ada dipelukannya, perasaan Ayu berbunga, sulit diungkap dengan kata-kata, yang jelas hatinya begitu bahagia. Pelan diciumnya lembut bayi itu. Melihat sahabatnya, Nisa tak enak hati mengganggu, tapi mereka masih akan pergi ke beberapa tempat, sedangkan hari sudah siang, "Yu.. kita pulang yuk?.." katanya pelan, sementara hujan di luar sana telah reda. Merekapun pamit, "Makasih ya, Ayu.. Nisa.. hati-hati di jalan." Ketika keduanya hampir di mulut pintu, "Sa.. nanti lihat-lihat ke atas ya.. kali aja pangerannya nyangkut di pohon," canda Ana.
*****
Pulang dari rumah Ana, mereka singgah ke masjid terdekat untuk shalat Dzhuhur, kemudian melanjutkan perjalanan, Ayu mengajak Nisa ke supermarket. Macam-macam yang dibelikannya untuk orangtua.
Nisa sudah sangat memahami sahabatnya itu, seperti dirinya juga, Ayu sangat memperhatikan orangtua terutama ibunya, karena melalui perantara wanita mulia itulah mereka mengerti betapa besar kasih sayang Allah kepadanya. Mereka selalu ingin mensyukuri nikmat Allah dengan berbuat baik pada orangtua yang telah mengandung, mendidik dan membesarkannya.
Tiba-tiba Nisa kehilangan sahabatnya, cukup lama juga ia mencari kesana kemari, rupanya Ayu sedang asyik memperhatikan baju-baju hamil yang dipajang di etalase. "Aduh Yu.. kirain hilang.. rupanya di sini, mau beliin untuk siapa?," tanya Nisa, Ayu sedikit tersipu ditanya begitu, malu-malu ia berkata,
"Nggak untuk siapa-siapa kok Sa.. Ayu senang aja," katanya sambil masih sibuk memperhatikan. "Sa.. Ayu kok pingin pake baju ini ya?!", "Hah?!" Nisa kaget, "Ini kan baju hamil,"
*****
Setelah memesan menu makan siang di warung langganan, kedua gadis itu duduk tenang di bawah pepohonan rindang, tempatnya teduh jauh dari polusi. Jam makan siang sudah lewat, warung tampak sepi, sehingga keduanya merasa betah berlama-lama.
"Ayu.. Ayu.. kok jadi aneh begini sich?!," Nisa tersenyum seraya geleng-geleng kepala membayangkan polah sahabatnya, Nisa jadi teringat Nini, sudah pernah diceritain belum, ya?.. " Nini yang bernama lengkap Cahyani adalah adik Nisa yang sudah menikah dalam usia yang masih sangat muda, 18 tahun.
"Dia itu paling seneng sama anak kecil, lho Yu.., entah apa penyebabnya suatu ketika ia merengek manja pada Nisa, "Mba'.. Aku pingin hamil.. tapi bagaimana mungkin.. akukan belum punya suami..., carikan aku dong Mba'..."
Ya Allah, mulanya Nisa kaget juga, ada apa dengan adikku?, kecil-kecil pingin hamil, punya anak?, ah, mungkin cuma bercanda, "Nanti Mba' carikan ya sayang.. ," Nisa coba menghibur hatinya.
Sejak saat itu dia rajin Qiyamullail, berdo'a siang malam agar diberikan Allah jodoh yang baik dan anak yang shaleh, Ninipun rajin mengaji, Nisa sampai terharu melihatnya.
Tak lama kemudian Allah mengabulkan permintaannya, ia diperkenalkan dengan seorang ikhwan yang kebetulan sedang mencari calon istri, keluarganyapun sayang pada Nini, akhirnya mereka menikah. Nini diboyong suaminya ke Jakarta. Alhamdulillah, tiga bulan kemudian Allah mewujudkan impiannya untuk memperoleh anak. Suatu hari ia curhat lagi,
"Mba'.. ternyata hamil itu rasanya begini ya.. serba salah. Seperti inilah dulu Bunda mengandungku ya..," katanya, dan kalau bicara sama ibu, ia selalu menangis, "Bunda.. kalau Nini punya salah, mohon dimaafkan ya..," katanya terisak.
Alhamdulillah, akhirnya Nini melahirkan dengan selamat, bayinya perempuan, namanya Mira, manis sekali. Sebulan, dua bulan Nini begitu menikmati menjadi seorang ibu. Namun kemudian,
"Bunda.. kok Mira hidungnya pesek?, setiap pagi dipencet tapi nggak mancung-mancung juga, sudah gitu matanya sipit lagi. Ada yang ngeledekin, Mira nanti sudah besar, kalau tertawa, nanti teman-temannya sudah pada ilang, Miranya baru sadar, Ninikan jadi sebel. Kok Mira nggak cantik kayak ibunya sich?!."
Mendengar keluhan Nini, ibu buru-buru menasihatinya, alhamdulillah ia cepat istighfar dan kembali bersyukur pada Allah. Kalau ingat Mira, Nisa jadi kangen sekali," Nisa berguman sambil mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya.
"Coba lihat Yu.., lucukan?!," Ayu menatap kagum foto yang ditunjukkan sahabatnya. "Mau tahu panggilan sayang Nisa padanya?, "Boneka Jepang." Kata Nisa sembari tersenyum bahagia.
*****
"Aduh.. belum sore begini kok jalanan sudah macet ya Yu?!," keluh Nisa. Sementara jauh di depan mereka banyak orang-orang mengerumuni sebuah tong sampah yang berada di depan klinik bersalin.
"Wanita tak bermoral, dikasi rezeki sama Allah malah dibuang!, kalau nggak siap jadi ibu ya jangan menikah!," umpat segerombolan ibu-ibu yang entah ditujukan pada siapa,
"Ada apa ya Yu?!," Nisa bertanya-tanya. Jalanan kembali normal, kedua sahabat itu hampir tak merasakan kalau habis terjebak kemacetan. Mereka tidak tahu ada peristiwa apa yang terjadi barusan. Klinik tampak sepi, yang berbekas hanya tumpukan sampah-sampah yang berserakan.
*****
Sesungguhnya rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezekikan kepada mereka, (semata-mata) mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka itu sesat dan mereka tidak mendapat petunjuk. (QS. Al An 'am 6:140)
Janganlah kamu membunuh anak-anakmu (karena takut) dari kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. (QS. Al An 'am 6:151)
*****
"Innalillaahi..," Ayu sedikit histeris saat membaca berita pagi yang ada di genggamannya. Tubuhnya lemas saat mengetahui peristiwa sesungguhnya yang terjadi kemarin. "Orok Bayi Ditemukan di Rumah Sakit Bersalin X". "Ya Allah, kenapa bisa tega seorang ibu membunuh darah dagingnya sendiri, bukankah Engkau titipkan ia rahim dan kelebihan rasa untuk lebih peka akan kasih sayang dan pengorbanan?," ucap Ayu sambil terus melanjutkan bacaannya,
Sementara pasangan lain bertahun-tahun mendamba buah hati, lain halnya dengan pasangan "TB", mereka berusaha keras untuk menghindari kelahiran anak dengan alasan ekonomi, Namun Allah berkehendak lain, ibu B dinyatakan positif, maka terjadilah peristiwa tragis ini.
*****
Sore yang cerah, usai membahas kasus mengharukan, Ayu mengajak Nisa ke tempat favorit keluarga, taman bunga. Ia mengambil peralatan menyiram kembang-kembang kesayangan ibunya. Di tengah keasyikan bekerja, Ayu mencurahkan isi hatinya pada Nisa.
"Sa.. kalau difikir-fikir, merawat anak itu sama seperti merawat tanaman-tanaman ini ya.., harus telaten, disirami, dikasi pupuk, dibersihkan dari rumput-rumput, lengah dikit aja, mereka tumbuh tak karu-karuan.
Ayu teringat dulu ketika kuliah, Ayu rajin mengurus tanaman penelitian, ditinggal bentar aja, eh.. mereka pada layu, mungkin karena sering diperhatikan ya? jadi manja. Sementara waktu mepet sekali.
Menurut penelitian, tanaman senang mendengar musik klasik, hal itu akan membuat pertumbuhan mereka lebih baik, karena itu Ayu bawa radio dari rumah ke kebun untuk mutarin mereka, ternyata benar, mereka subur kembali.
Begitupula menurut penelitian para ilmuwan dan musisi, bahwa musik klasik sangat baik untuk pertumbuhan bayi, karena dalam musik itu terdapat lompatan-lompatan nada yang bisa merangsang otaknya, pantaslah saja selama ini para kiyai dan ustadz selalu menyarankan para ibu yang mengandung supaya lebih banyak mengaji ya.. sebab alunan suara Qur'an membawa dampak yang sangat luar biasa bagi anaknya.
Oh ya Nisa, dulu Ayu pernah sampai nangis lho ketika makan jagung, Ayu membayangkan pertama kali saat menanaminya, dari biji, tumbuh tunas, daun dan tiba-tiba sebesar ini. Perasaanku sangat bahagia sekali melihat perkembangan mereka, seperti ada ikatan bathin, mungkin rasa inilah yang dimiliki orangtua kita pada anak-anaknya, ya..
Ucap Ayu, sejenak ia menghentikan kalimatnya, "Sa, kini Ayu mulai menyadari kenapa Allah belum mengizinkan Ayu menikah, Ia ingin Ayu mengabdi dulu pada orangtua. Ayu juga mulai memahami kenapa Allah menghendaki Ayu masih sendiri, agar Ayu lebih menempa diri untuk menjadi seorang ibu di bumi ini!.."
Subhanallah. (Nisa membathin), ia kagum pada kecerdasan sahabatnya membaca Firman Allah dan rahasia cobaan Allah. Tiba-tiba matanya tertegun melihat serumpun Melati yang tumbuh subur di taman itu, dalam hati ia berkata, Melati itu semakin harum mewangi, Ya Allah.. aku memohon pada-Mu, berikanlah yang terbaik bagi-Mu untuknya, Aamiin.
Sejenak Ayu dan Nisa tertegun mendengar syair lagu dari balik jendela kamar Ayu yang persis menghadap taman, lagu di radio itu, lagu yang punya arti tersendiri bagi keduanya.
"Kau bunga di tamanku,
di lubuk hati ini,
Mekar dan harum mewangi,
Melati suntingan hati.
Bersemilah di tamanku, di lubuk hati ini,
Agar dapat ku resapi, hadirmu bagiku.
Kau Melati, Putih nan bersih,
kau tumbuh di antara belukar berduri,
Seakan tak perduli lagi,
meski dalam hidupmu kau hanya memberi,
Kau sebar harum s'bagai tanda,
cinta yang t'lah kau hadapi,
Di sepanjang waktu.
Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yaasin 36:36)
*****
"Ya Allah, siapakah gerangan sahabat sejati yang Engkau pilihkan untukku?, yang mau menemaniku merenda hari-hari untuk beribadah kepada-Mu, yang mau berbagi suka dan duka dalam mengharungi hidup ini, yang menjadikanku kokoh kuat dalam menegakkan kalimat-Mu, agar.. diriku lebih mensyukuri segala nikmat yang telah Engkau berikan, agar.. diriku lebih dekat kepada-Mu.."
Nisa tertegun mendengar do'a Ayuning di keheningan malam. Sahabatnya itu memintanya untuk menemani tidur karena orangtua Ayu ke luar kota. Do'a itupun usailah sudah, wajah Ayu bersemu merah ketika tahu Nisa terjaga dari tidurnya.
"Kamu mendengar do'aku Nisa?", Nisa tersenyum, "Apakah do'a itu yang s'lalu Ayu panjatkan pada Allah?", Ayuning diam, perlahan titik-titik embun jatuh dari kelopak matanya. "Aduhai sayang.." Ujar Nisa seraya merangkul sahabatnya, perlahan ia menyeka air mata itu, setelah agak tenang.
"Ayu.., apa yang menjadi keinginanmu adalah cita-cita seluruh wanita mukminat di dunia ini, namun jikalau ia belum terwujud, itu adalah rahasia Allah, Yang Menciptakan kita, bukankah Ia menciptakan makhluk-Nya menurut ukuran-ukuran yang telah ditetapkan? kita selaku hamba-Nya hanya bisa berusaha dan ikhtiar, dan hanya Allahlah yang menentukan.
Bukankah Ayu mencintai Allah?, rasa itu akan membuat Ayu yakin, Allah akan memilihkan yang terbaik untukmu. Demi Allah Ayu.., Allah Maha Adil terhadap hamba-hamba-Nya, karena itu, bersyukurlah bahwa Ia masih memberimu kesempatan untuk menjadi wanita yang lebih baik dari sekarang.
Ayu harus kuat dalam mengitari perputaran roda kehidupan ini, karena perkitarannya semakin hari semakin cepat. Jangan pernah berhenti sesaatpun, Ayu.. masih banyak yang perlu Ayu perhatikan, masih banyak yang memerlukan perhatianmu. Kita datang ke alam ini sendirian, Ayu.. dan kita juga akan pulang sendirian. Ayo.. jangan sedih-sedih lagi, ya.. mana senyum manisnya?.."
Ayu tersenyum pada Nisa, dari bibir mungil itu keluar kata, "Tolong do'akan Ayu ya.." Nisa membalas senyuman tulus itu, "Ia, Ayu.. Nisa do'akan" Mereka berdua sujud syukur pada Allah, melanjutkan malam itu dengan tenggelam akan kerinduan beribadah kepada Allah. Semenjak malam itu, Nisa lama tak bertemu Ayu, iapun maklum dengan kesibukan sahabatnya.
*****
Fikiran Ayu menerawang, matanya menatap lekat langit-langit kamar, seketika ia terjaga saat mendengar telpon berdering, kriiing.. kriing... Samar-samar terdengar suara ibunya berbicara, "Ayu?, dari siapa ya?, tunggu sebentar." Ibu bergegas ke kamarnya, "Ayu.., ada telpon dari Herman."
Ini sudah kesekian kali pemuda itu menelponnya, kalau sudah di udara, melayang.. lupa segala-galanya. Entahlah iapun tidak tahu kenapa, ada getar-getar halus yang menyusup ke relung hatinya saat berbicara dengan sosok insan yang satu ini, hampir tak sepatah katapun yang bernilai sia-sia.
Yang mereka bicarakan seputar mencarikan jalan agar anak-anak jalanan mampu mandiri tanpa meminta-minta, menanamkan ajaran tauhid agar anak-anak tersebut terbentengi dari pihak-pihak yang ingin meracuni fikiran mereka supaya berpindah agama, yach Herman punya kepekaan sosial yang tinggi, sangat peduli terhadap nasib hamba-hamba Tuhan.
Pemuda seperti inilah yang didambakan Ayu selama ini, dan rasa itu semakin kuat saat Herman berterus terang menyukai kelembutannya, kecantikannya, dan betah berlama-lama berbicara dengannya, ah.. tetapi apakah mungkin persahabatan mereka dapat berganti menjadi sebuah ikatan perkawinan? sedangkan ia tahu kenyataannya bahwa Herman telah mempunyai calon istri?! dan apa yang ditakutinya selama ini terbukti..
"Kamu baik-baik saja kan, Ayu?.. bulan depan saya akan menikah. Sebenarnya.. Herman mencintaimu Ayu, tetapi kami telah dipertemukan lebih dulu. Seandainya saja saya lebih dulu mengenalmu.., maafkan saya, Ayu.., " Ayuning tak sanggup mendengar kelanjutan kata-kata itu, air matanya jatuh tanpa suara, ia berusaha keras menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya, karena ia sadar semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah, jika ia tak terima sama artinya ia melawan takdir Allah.
Ayu masih belum mampu mengendalikan diri, tak pernah diduganya akhir hubungannya akan jadi begini. Herman, pemuda yang disangkanya adalah sahabat sejati yang dipilihkan Allah untuknya, ternyata.. perlahan dibukanya Diary Merah Jambu yang berisi ungkapan rasanya dengan pemuda itu.
*****
Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman pada hari kiamat kelak: Mana orang-orang yang saling mencinta karena Keagungan-Ku? Hari ini Ku-naungi mereka, dimana tidak ada naungan yang lain selain naungan-Ku. (HR. Muslim)
*****
Untukmu Sahabatku,
Sahabat, tahukah engkau?, nasihatmu menduduki peringkat pertama di hatiku. Kemarin.. engkau mau mendengar keluhanku, kemarin.. engkau beri jiwaku tetesan embun, dan kemudian.. kau tinggalkan aku.
Akhirnya, diujung batas kesendirian ini, aku temukan satu jawaban, bahwa kehidupan ini akan terasa indah, jika kita senantiasa dekat dengan Allah, Ya Allah... Sahabat, kini kau datang lagi menghampiriku, dan bertanya, "Bagaimana khabarku saat ini?", sambil tersenyum aku berkata, "Alhamdulillah...", dan aku terharu saat mendengar, bahwa engkau sayang padaku.
Wahai sahabatku, janganlah engkau bosan untuk menasihatiku, jangan pula bosan untuk menyayangiku, bukankah kehidupan ini akan terasa indah jika kita saling sayang?, saling cinta?, Mencintai karena Allah. Sahabat, mencintai menjadikan kita kuat untuk tetap berpegang pada tali Allah, dan mari kita tebarkan rasa cinta ini ke segenap penjuru bumi, agar senantiasa damai hati insani.. Semoga Allah membalas segala kebaikanmu padaku, Sayangku s'lalu untukmu.
Perlahan Ayu menutup Diarynya, air mata mengucur deras dari kelopak matanya. "Ya Allah.. kenapa rasa ini harus ada?, bagaimana mungkin aku memikirkan seseorang yang bukan Engkau takdirkan untukku?!."
*****
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah 2:216)
*****
Dengan Nisalah Ayu selalu berbagi cerita suka dukanya, begitupun sebaliknya. "Semua telah berakhir, Nisa!, aku harus menerima kenyataan bahwa dia bukanlah untukku, walau terkadang aku masih berharap Allah akan merubah segalanya, namun kecintaanku pada-Nya membuat aku yakin, bahwa ini adalah yang terbaik yang diberikan-Nya.
Sebenarnya aku menaruh harapan besar pada hamba Allah yang sholeh itu, untuk menjadi sahabat yang dapat kuajak bersama mengelilingi perputaran roda ini, bagaikan Matahari dan Bulan yang silih berganti menerangi alam, menjadi khalifah bagi insan taqwa di bumi ini.
Namun sekali lagi aku sadar, apa yang menurutku baik belum tentu baik menurut-Nya, aku tidak tahu apa-apa, sedangkan Allah Maha Mengetahui segalanya. Yang terpenting bagiku kini, menjalani hidup ini bagai air yang mengalir, jika tiba saatnya nanti, insya Allah." Kata-kata mutiara itu meluncur deras dari bibirnya, terdengar begitu tegar,
"Apakah pemuda itu tahu perasaanmu, Ayu?," tanya Nisa. Ayuning tersenyum. "Ia tahu, Nisa.., dari perbincangan kami yang panjang, dari persahabatan kami yang cukup lama, aku yakin ia juga merasakan hal yang sama, tapi sudahlah.. Pemuda itu lebih dahulu mengenal wanita itu daripadaku, ia juga memutuskan untuk menikahinya karena petunjuk Allah. Semoga Allah memberkahi pernikahannya dan melimpahkan keberkahan atas pernikahannya." "Aamiin", ucap Nisa.
"Mungkin wanita itu lebih baik dan lebih taqwa dariku, ya Nisa?." Sebelum sempat Nisa berkomentar, Ayu telah meralat ucapannya. "Tapi bukankah yang berhak menilai baik dan taqwanya seseorang hanyalah Allah?!.." "Iya, Ayu.." Nisa membenarkan ucapan sahabatnya. "Eh, sudah jam 10, kita ke rumah Ana yuk." Kedua sahabat karib itupun pergi ke rumah sahabatnya yang baru melahirkan. Di atas langit terlihat mendung.
*****
"Subhanallah lucunya..," mata Ayu dan Nisa berbinar melihat bayi mungil Ana, buah hati itu terlihat sehat, kulitnya putih dan rambutnya lebat sekali. Ayu sebenarnya ingin menggendong, tapi khawatir terjadi apa-apa karena si mungil baru berusia 5 hari, sementara di luar sana hujan turun dengan derasnya.
Ana begitu antusias menceritakan pengalaman melahirkannya, dan Ayu begitu menikmatinya, sesekali ia tampak merinding. Menghadapi masa-masa menstruasi saja sudah sedemikian menderita, apalagi kalau melahirkan ya?, bathinnya. Perasaan cemas itu semakin menjadi-jadi saat ia teringat Firman Allah yang menceritakan betapa sakitnya Maryam melahirkan Nabi Isa, a.s. sehingga ia berkata;
"Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan." (QS. Maryam 19:23)
"Sebenarnya aku pingin operasi caesar, supaya nggak sakit, tapi.. mulut ini mau bicara susahnya minta ampun, akhirnya kupikir sudahlah, pasrah saja..," Ana terlihat menarik nafas. "Melihat si mungil lahir, Subhanallah.. rasa sakitku mendadak hilang... Maha Besar-Nya Allah, ya.." Ungkap Ana melukiskan kebahagiaannya.
Mendengar penuturan sahabatnya, ada sesuatu yang menusuk hati Ayuning. Terkadang ia masih dihantui rasa takut jika nanti sudah menikah. Membayangkan dirinya akan hamil dan punya anak. Iapun menyadari kesibukannya dengan berbagai penelitian tumbuh-tumbuhan sampai terkadang lupa waktu, mengurus diri sendiri saja sudah kalang kabut, apalagi mengurus suami dan anak-anak? fikirnya.
Tapi rasa itu selalu ditangkisnya, bukankah melahirkan adalah kodrat perempuan?!, bukankah anak adalah rezeki yang tak ternilai?!, sementara banyak terjadi pasangan, akibat menunda kehamilannya di awal pernikahan, beresiko tinggi tidak dianugerahi keturunan.
Yach.., mungkin Allah murka pada mereka. "Duhai Allah, jadikanlah aku hamba-Mu yang bersyukur atas segala karunia-Mu," Ayu berdo'a dalam hati.
"Kok melamun sich Ayu?," tanya Ana menyadarkannya. "Eh.. bagaimana dengan pemuda itu?," Ayu sempat cerita pada Ana tentang kedekatannya dengan Herman, mendengar pertanyaan Ana, wajah Ayu berubah sendu, perlahan ia mulai menjelaskan,
"Ternyata dia bukan jodohku Ana, ia akan menikah bulan depan." Melihat kedukaan Ayu, Nisa berusaha mendinginkan suasana, "Ah.. kalau ada jodoh tak akan lari kemana..," serunya. "Hush.. aku belum siap jadi istri kedua!," sungut Ayu pura-pura marah, diiringi tawa kedua sahabatnya. "Kalau kamu sudah punya calon Sa?," tanya Ana hati-hati, "Nisa sich menunggu pangeran dari langit," ucapnya ringan.
Sejenak obrolan mereka terhenti melihat kehadiran suami Ana, ia begitu perhatian sekali terhadap istri dan anaknya. Karena tak ingin mengusik terlalu lama, iapun segera pergi.
"Punya suami itu enak lho Ayu, Nisa.. ada tempat untuk berbagi, beda saat masih sendiri, perasaan kita selalu gelisah, ada aja yang difikirkan. Bathin orang yang sudah menikah itu jauh lebih tenang, karena arah tujuan hidup mereka jelas."
"Ah.. Ana, kamu bisa aja!," celoteh Ayu. "Nggak percaya?, buktikan aja sendiri!," Kata Ana meniru iklan televisi, dengan maksud meyakinkan kedua sahabatnya.
Diam-diam Ayu asyik memperhatikan bayi mungil Ana yang tertidur lelap, ada rasa keibuan yang mendorongnya untuk memberanikan diri menggendong bayi itu, pelan dan sangat hati-hati. Nisa dan Ana membantu, keduanya saling berpandangan.
Saat si mungil ada dipelukannya, perasaan Ayu berbunga, sulit diungkap dengan kata-kata, yang jelas hatinya begitu bahagia. Pelan diciumnya lembut bayi itu. Melihat sahabatnya, Nisa tak enak hati mengganggu, tapi mereka masih akan pergi ke beberapa tempat, sedangkan hari sudah siang, "Yu.. kita pulang yuk?.." katanya pelan, sementara hujan di luar sana telah reda. Merekapun pamit, "Makasih ya, Ayu.. Nisa.. hati-hati di jalan." Ketika keduanya hampir di mulut pintu, "Sa.. nanti lihat-lihat ke atas ya.. kali aja pangerannya nyangkut di pohon," canda Ana.
*****
Pulang dari rumah Ana, mereka singgah ke masjid terdekat untuk shalat Dzhuhur, kemudian melanjutkan perjalanan, Ayu mengajak Nisa ke supermarket. Macam-macam yang dibelikannya untuk orangtua.
Nisa sudah sangat memahami sahabatnya itu, seperti dirinya juga, Ayu sangat memperhatikan orangtua terutama ibunya, karena melalui perantara wanita mulia itulah mereka mengerti betapa besar kasih sayang Allah kepadanya. Mereka selalu ingin mensyukuri nikmat Allah dengan berbuat baik pada orangtua yang telah mengandung, mendidik dan membesarkannya.
Tiba-tiba Nisa kehilangan sahabatnya, cukup lama juga ia mencari kesana kemari, rupanya Ayu sedang asyik memperhatikan baju-baju hamil yang dipajang di etalase. "Aduh Yu.. kirain hilang.. rupanya di sini, mau beliin untuk siapa?," tanya Nisa, Ayu sedikit tersipu ditanya begitu, malu-malu ia berkata,
"Nggak untuk siapa-siapa kok Sa.. Ayu senang aja," katanya sambil masih sibuk memperhatikan. "Sa.. Ayu kok pingin pake baju ini ya?!", "Hah?!" Nisa kaget, "Ini kan baju hamil,"
*****
Setelah memesan menu makan siang di warung langganan, kedua gadis itu duduk tenang di bawah pepohonan rindang, tempatnya teduh jauh dari polusi. Jam makan siang sudah lewat, warung tampak sepi, sehingga keduanya merasa betah berlama-lama.
"Ayu.. Ayu.. kok jadi aneh begini sich?!," Nisa tersenyum seraya geleng-geleng kepala membayangkan polah sahabatnya, Nisa jadi teringat Nini, sudah pernah diceritain belum, ya?.. " Nini yang bernama lengkap Cahyani adalah adik Nisa yang sudah menikah dalam usia yang masih sangat muda, 18 tahun.
"Dia itu paling seneng sama anak kecil, lho Yu.., entah apa penyebabnya suatu ketika ia merengek manja pada Nisa, "Mba'.. Aku pingin hamil.. tapi bagaimana mungkin.. akukan belum punya suami..., carikan aku dong Mba'..."
Ya Allah, mulanya Nisa kaget juga, ada apa dengan adikku?, kecil-kecil pingin hamil, punya anak?, ah, mungkin cuma bercanda, "Nanti Mba' carikan ya sayang.. ," Nisa coba menghibur hatinya.
Sejak saat itu dia rajin Qiyamullail, berdo'a siang malam agar diberikan Allah jodoh yang baik dan anak yang shaleh, Ninipun rajin mengaji, Nisa sampai terharu melihatnya.
Tak lama kemudian Allah mengabulkan permintaannya, ia diperkenalkan dengan seorang ikhwan yang kebetulan sedang mencari calon istri, keluarganyapun sayang pada Nini, akhirnya mereka menikah. Nini diboyong suaminya ke Jakarta. Alhamdulillah, tiga bulan kemudian Allah mewujudkan impiannya untuk memperoleh anak. Suatu hari ia curhat lagi,
"Mba'.. ternyata hamil itu rasanya begini ya.. serba salah. Seperti inilah dulu Bunda mengandungku ya..," katanya, dan kalau bicara sama ibu, ia selalu menangis, "Bunda.. kalau Nini punya salah, mohon dimaafkan ya..," katanya terisak.
Alhamdulillah, akhirnya Nini melahirkan dengan selamat, bayinya perempuan, namanya Mira, manis sekali. Sebulan, dua bulan Nini begitu menikmati menjadi seorang ibu. Namun kemudian,
"Bunda.. kok Mira hidungnya pesek?, setiap pagi dipencet tapi nggak mancung-mancung juga, sudah gitu matanya sipit lagi. Ada yang ngeledekin, Mira nanti sudah besar, kalau tertawa, nanti teman-temannya sudah pada ilang, Miranya baru sadar, Ninikan jadi sebel. Kok Mira nggak cantik kayak ibunya sich?!."
Mendengar keluhan Nini, ibu buru-buru menasihatinya, alhamdulillah ia cepat istighfar dan kembali bersyukur pada Allah. Kalau ingat Mira, Nisa jadi kangen sekali," Nisa berguman sambil mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya.
"Coba lihat Yu.., lucukan?!," Ayu menatap kagum foto yang ditunjukkan sahabatnya. "Mau tahu panggilan sayang Nisa padanya?, "Boneka Jepang." Kata Nisa sembari tersenyum bahagia.
*****
"Aduh.. belum sore begini kok jalanan sudah macet ya Yu?!," keluh Nisa. Sementara jauh di depan mereka banyak orang-orang mengerumuni sebuah tong sampah yang berada di depan klinik bersalin.
"Wanita tak bermoral, dikasi rezeki sama Allah malah dibuang!, kalau nggak siap jadi ibu ya jangan menikah!," umpat segerombolan ibu-ibu yang entah ditujukan pada siapa,
"Ada apa ya Yu?!," Nisa bertanya-tanya. Jalanan kembali normal, kedua sahabat itu hampir tak merasakan kalau habis terjebak kemacetan. Mereka tidak tahu ada peristiwa apa yang terjadi barusan. Klinik tampak sepi, yang berbekas hanya tumpukan sampah-sampah yang berserakan.
*****
Sesungguhnya rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezekikan kepada mereka, (semata-mata) mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka itu sesat dan mereka tidak mendapat petunjuk. (QS. Al An 'am 6:140)
Janganlah kamu membunuh anak-anakmu (karena takut) dari kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. (QS. Al An 'am 6:151)
*****
"Innalillaahi..," Ayu sedikit histeris saat membaca berita pagi yang ada di genggamannya. Tubuhnya lemas saat mengetahui peristiwa sesungguhnya yang terjadi kemarin. "Orok Bayi Ditemukan di Rumah Sakit Bersalin X". "Ya Allah, kenapa bisa tega seorang ibu membunuh darah dagingnya sendiri, bukankah Engkau titipkan ia rahim dan kelebihan rasa untuk lebih peka akan kasih sayang dan pengorbanan?," ucap Ayu sambil terus melanjutkan bacaannya,
Sementara pasangan lain bertahun-tahun mendamba buah hati, lain halnya dengan pasangan "TB", mereka berusaha keras untuk menghindari kelahiran anak dengan alasan ekonomi, Namun Allah berkehendak lain, ibu B dinyatakan positif, maka terjadilah peristiwa tragis ini.
*****
Sore yang cerah, usai membahas kasus mengharukan, Ayu mengajak Nisa ke tempat favorit keluarga, taman bunga. Ia mengambil peralatan menyiram kembang-kembang kesayangan ibunya. Di tengah keasyikan bekerja, Ayu mencurahkan isi hatinya pada Nisa.
"Sa.. kalau difikir-fikir, merawat anak itu sama seperti merawat tanaman-tanaman ini ya.., harus telaten, disirami, dikasi pupuk, dibersihkan dari rumput-rumput, lengah dikit aja, mereka tumbuh tak karu-karuan.
Ayu teringat dulu ketika kuliah, Ayu rajin mengurus tanaman penelitian, ditinggal bentar aja, eh.. mereka pada layu, mungkin karena sering diperhatikan ya? jadi manja. Sementara waktu mepet sekali.
Menurut penelitian, tanaman senang mendengar musik klasik, hal itu akan membuat pertumbuhan mereka lebih baik, karena itu Ayu bawa radio dari rumah ke kebun untuk mutarin mereka, ternyata benar, mereka subur kembali.
Begitupula menurut penelitian para ilmuwan dan musisi, bahwa musik klasik sangat baik untuk pertumbuhan bayi, karena dalam musik itu terdapat lompatan-lompatan nada yang bisa merangsang otaknya, pantaslah saja selama ini para kiyai dan ustadz selalu menyarankan para ibu yang mengandung supaya lebih banyak mengaji ya.. sebab alunan suara Qur'an membawa dampak yang sangat luar biasa bagi anaknya.
Oh ya Nisa, dulu Ayu pernah sampai nangis lho ketika makan jagung, Ayu membayangkan pertama kali saat menanaminya, dari biji, tumbuh tunas, daun dan tiba-tiba sebesar ini. Perasaanku sangat bahagia sekali melihat perkembangan mereka, seperti ada ikatan bathin, mungkin rasa inilah yang dimiliki orangtua kita pada anak-anaknya, ya..
Ucap Ayu, sejenak ia menghentikan kalimatnya, "Sa, kini Ayu mulai menyadari kenapa Allah belum mengizinkan Ayu menikah, Ia ingin Ayu mengabdi dulu pada orangtua. Ayu juga mulai memahami kenapa Allah menghendaki Ayu masih sendiri, agar Ayu lebih menempa diri untuk menjadi seorang ibu di bumi ini!.."
Subhanallah. (Nisa membathin), ia kagum pada kecerdasan sahabatnya membaca Firman Allah dan rahasia cobaan Allah. Tiba-tiba matanya tertegun melihat serumpun Melati yang tumbuh subur di taman itu, dalam hati ia berkata, Melati itu semakin harum mewangi, Ya Allah.. aku memohon pada-Mu, berikanlah yang terbaik bagi-Mu untuknya, Aamiin.
Sejenak Ayu dan Nisa tertegun mendengar syair lagu dari balik jendela kamar Ayu yang persis menghadap taman, lagu di radio itu, lagu yang punya arti tersendiri bagi keduanya.
"Kau bunga di tamanku,
di lubuk hati ini,
Mekar dan harum mewangi,
Melati suntingan hati.
Bersemilah di tamanku, di lubuk hati ini,
Agar dapat ku resapi, hadirmu bagiku.
Kau Melati, Putih nan bersih,
kau tumbuh di antara belukar berduri,
Seakan tak perduli lagi,
meski dalam hidupmu kau hanya memberi,
Kau sebar harum s'bagai tanda,
cinta yang t'lah kau hadapi,
Di sepanjang waktu.
Kamis, 01 Juli 2010
Nasihat Rasulullah Menyambut Bulan Ramadhan
Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan syiyam dan membaca kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fukara dan masakin.
Muliakanlah orang-orang tuamu, sayangilah yang muda, sambunglah tali persudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya, dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarkannya.
Kasihanilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hambanya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya, dan mengabulkan mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
Ketahuilah! Allah Ta'ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri dihadapan Rabb Al-'Alamin.
Wahai manusia! Barangsiapa diantaramu memberi buka kepada orang-orang Mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka disisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu.
(Sahabat-sahabat bertanya:" Ya Rasulullah!Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian." Rasulullah meneruskan:) Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.
Wahai manusia! Siapa yang membaguskan ahlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.
Barang siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari Kiamat. Barang siapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari ia berjumpa dengan-nya. Barangsiapa menyambungkan tali persudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardhu baginya adalah ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardhu dibulan yang lain.
Barang siapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa pada bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Qur'an pada bulan-bulan yang lain.
Wahai manusia! sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkannya bagimu.
Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.
Amirul Mukminin k.w. berkata,:Aku berdiri dan berkata,"Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama dibulan ini?" Jawab Nabi:Ya abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah".
___________
Di kutip dari:"Puasa Bersama Rasulullah", karangan Ibnu Muhammad, Pustaka Al Bayan Mizan.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fukara dan masakin.
Muliakanlah orang-orang tuamu, sayangilah yang muda, sambunglah tali persudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya, dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarkannya.
Kasihanilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hambanya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya, dan mengabulkan mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
Ketahuilah! Allah Ta'ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri dihadapan Rabb Al-'Alamin.
Wahai manusia! Barangsiapa diantaramu memberi buka kepada orang-orang Mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka disisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu.
(Sahabat-sahabat bertanya:" Ya Rasulullah!Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian." Rasulullah meneruskan:) Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.
Wahai manusia! Siapa yang membaguskan ahlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.
Barang siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari Kiamat. Barang siapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari ia berjumpa dengan-nya. Barangsiapa menyambungkan tali persudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardhu baginya adalah ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardhu dibulan yang lain.
Barang siapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa pada bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Qur'an pada bulan-bulan yang lain.
Wahai manusia! sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkannya bagimu.
Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.
Amirul Mukminin k.w. berkata,:Aku berdiri dan berkata,"Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama dibulan ini?" Jawab Nabi:Ya abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah".
___________
Di kutip dari:"Puasa Bersama Rasulullah", karangan Ibnu Muhammad, Pustaka Al Bayan Mizan.
Mengapa Tak Mau Berdoa?
Saya tak bisa bahasa Arab, saya malu memimpin doa selepas sholat jamaah bersama isteri saya, apalagi didepan jamaah yang lain.
Pernahkah pengalaman ini menimpa kita? Insya Allah tidak. Tapi andaikata pernah, janganlah khawatir. Sungguh Allah itu mengerti segala macam bahasa. Jangan malu untuk berdoa dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Kalau anda hapal doa dalam bahasa arab, saya ucapkan alhamdulillah! Namun kalau anda lebih sreg berdoa dengan bahasa selain bahasa Arab, saya pun berucap alhamdulillah! Yang terpenting adalah kita masih mau berdoa. Kalimat terakhir ini mengundang pertanyaan, Mengapa sih kita harus berdoa?
Allah adalah Tuhan kita satu-satunya. Allah pun dalam Al-Quran mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (QS 112:2). Dalam surat al-Fatihah kita pun berseru, Iyyaka Nabudu wa Iyyaka Nastain (Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan). Karena itu, kalau ada orang yang mengaku bahwa Allah itu Tuhannya lalu ia tak mau berdoa maka pantas kalau kita sebut orang tersebut orang sombong. Bukankah Allah telah berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu (QS 40:60).
Betulkah setiap doa akan dikabulkan oleh Allah? Boleh jadi ada diantara kita yang telah berdoa sesuatu namun tak kita rasakan hasil dari doa tersebut. Pertama, harus disadari bahwa kita ini hamba sehingga tak berhak memaksa Allah. Kita yang membutuhkan Allah; bukan sebaliknya.
Kedua, Allah lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Boleh jadi, sebuah doa yang kita minta bila dikabulkan oleh Allah justru ujung-ujungnya dapat menimbulkan kesulitan dalam hidup kita atau mungkin Allah punya ketentuan lain yang tak kita ketahui. Sebagai contoh, Nabi Nuh berdoa agar anaknya diselamatkan dari banjir dahsyat, Tuhan tidak mengabulkannya dan bahkan menegur Nabi Nuh sehingga Nabi Nuh pun berdoa: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakekatnya) dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang rugi. (QS 11: 47) Allah Maha Tahu, maka doa kita kadang kala bukan tak dikabulkan tapi ditunda waktunya, atau malah diganti dengan yang lebih baik. Wa Allahu Alam.
Ketiga, sudah seberapa jauh usaha kita untuk meminta dan memelas pada Allah. Nabi Zakariya sendiri telah puluhan tahun berdoa namun belum dikabulkan Allah. Tapi berbeda dengan kita yang cenderung tak sabar, Nabi Zakariya berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. (QS 19:4)
Begitulah sikap kita seharusnya: jangan pernah kecewa dalam berdoa. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Aku ini bagaimana persangkaan hambaKu saja... Maksudnya, kalau kita dalam berdoa belum-belum sudah beranggapan bahwa doa ini tak akan dikabulkan, yah begitulah jadinya. Insya Allah kita selalu berbaik sangka dan tak pernah kecewa dalam berdoa.
Dalam berdoa kita diminta untuk berharap-harap cemas (QS 21:90). Artinya, kita berharap doa kita akan dikabulkan, namun disisi lain kita juga cemas kalau-kalau doa ini tidak dikabulkan. Gabungan perasaan inilah yang menjadi etika dalam berdoa. Kita tidak terlalu yakin pasti akan dikabulkan, namun juga tidak putus asa. Etika lainnya adalah kita disuruh berdoa dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut (QS 7:55). Kalau kita jalani etika berdoa ini insya Allah hati kita akan tergetar dan seringkali tanpa sadar air mata menggantung di pelopak mata.
Pendek kata, berdoalah baik dalam keadaan sehat-sakit, suka-duka, kaya-miskin, berdiri-duduk-berbaring, pagi-siang-malam.......
(Nadirsyah Hosen )
Pernahkah pengalaman ini menimpa kita? Insya Allah tidak. Tapi andaikata pernah, janganlah khawatir. Sungguh Allah itu mengerti segala macam bahasa. Jangan malu untuk berdoa dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Kalau anda hapal doa dalam bahasa arab, saya ucapkan alhamdulillah! Namun kalau anda lebih sreg berdoa dengan bahasa selain bahasa Arab, saya pun berucap alhamdulillah! Yang terpenting adalah kita masih mau berdoa. Kalimat terakhir ini mengundang pertanyaan, Mengapa sih kita harus berdoa?
Allah adalah Tuhan kita satu-satunya. Allah pun dalam Al-Quran mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (QS 112:2). Dalam surat al-Fatihah kita pun berseru, Iyyaka Nabudu wa Iyyaka Nastain (Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan). Karena itu, kalau ada orang yang mengaku bahwa Allah itu Tuhannya lalu ia tak mau berdoa maka pantas kalau kita sebut orang tersebut orang sombong. Bukankah Allah telah berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu (QS 40:60).
Betulkah setiap doa akan dikabulkan oleh Allah? Boleh jadi ada diantara kita yang telah berdoa sesuatu namun tak kita rasakan hasil dari doa tersebut. Pertama, harus disadari bahwa kita ini hamba sehingga tak berhak memaksa Allah. Kita yang membutuhkan Allah; bukan sebaliknya.
Kedua, Allah lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Boleh jadi, sebuah doa yang kita minta bila dikabulkan oleh Allah justru ujung-ujungnya dapat menimbulkan kesulitan dalam hidup kita atau mungkin Allah punya ketentuan lain yang tak kita ketahui. Sebagai contoh, Nabi Nuh berdoa agar anaknya diselamatkan dari banjir dahsyat, Tuhan tidak mengabulkannya dan bahkan menegur Nabi Nuh sehingga Nabi Nuh pun berdoa: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakekatnya) dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang rugi. (QS 11: 47) Allah Maha Tahu, maka doa kita kadang kala bukan tak dikabulkan tapi ditunda waktunya, atau malah diganti dengan yang lebih baik. Wa Allahu Alam.
Ketiga, sudah seberapa jauh usaha kita untuk meminta dan memelas pada Allah. Nabi Zakariya sendiri telah puluhan tahun berdoa namun belum dikabulkan Allah. Tapi berbeda dengan kita yang cenderung tak sabar, Nabi Zakariya berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. (QS 19:4)
Begitulah sikap kita seharusnya: jangan pernah kecewa dalam berdoa. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Aku ini bagaimana persangkaan hambaKu saja... Maksudnya, kalau kita dalam berdoa belum-belum sudah beranggapan bahwa doa ini tak akan dikabulkan, yah begitulah jadinya. Insya Allah kita selalu berbaik sangka dan tak pernah kecewa dalam berdoa.
Dalam berdoa kita diminta untuk berharap-harap cemas (QS 21:90). Artinya, kita berharap doa kita akan dikabulkan, namun disisi lain kita juga cemas kalau-kalau doa ini tidak dikabulkan. Gabungan perasaan inilah yang menjadi etika dalam berdoa. Kita tidak terlalu yakin pasti akan dikabulkan, namun juga tidak putus asa. Etika lainnya adalah kita disuruh berdoa dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut (QS 7:55). Kalau kita jalani etika berdoa ini insya Allah hati kita akan tergetar dan seringkali tanpa sadar air mata menggantung di pelopak mata.
Pendek kata, berdoalah baik dalam keadaan sehat-sakit, suka-duka, kaya-miskin, berdiri-duduk-berbaring, pagi-siang-malam.......
(Nadirsyah Hosen )
Renungan Sebelum Makan
Pada suatu kesempatan seorang Doktor menceritakan wejangannya dengan membawa para hadirin memikirkan sejenak tentang adab makan Rasulullah saw yang patut kita ambil hikmah. Berikut adalah antara intipati wejangannya secara ringkas:
1. Cara makan, kenapa kita gunakan tangan? Mengikut cara Rasulullah
S.A.W, beliau akan mencampurkan lauk dan nasi dengan tangan kanannya dan
kemudian membiarkan sebentar, lalu Rasullah saw akan mengambil
sedikit garam menggunakan jari kecilnya, lalu Rasullah saw akan menghisap garam itu. Kemudian barulah Rasulullah makan nasi dan lauknya.
Mengapa? Karena kedua belah tangan kita ada mengeluarkan 3 macam enzim,
tetapi konsentrasi di tangan kanan kurang sedikit dari yg kiri. Ini adalah
karena enzim yg ada di tangan kanan itu merupakan enzim yang dapat menolong proses penghadaman (digestion), ia merupakan the first process of digestion.
Mengapa menghisap garam? Kerana garam adalah sumber mineral dari tanah yg diperlukan oleh badan kita. Dua cecah garam dari jari kita itu adalah sama dgn satu liter air mineral.
Kita berasal dari tanah maka lumrahnya manusia berasal dari bumi (tanah) inilah yg paling berkhasiat untuk kita.
Kenapa garam? Selain dari sebab ia adalah sumber mineral, garam juga adalah penawar yang paling mujarab bagi keracunan, mengikut Dokter di hospital-hospital, the first line of treatment for poisoning adalah dengan memberi Sodium Chloride, iaitu GARAM. Garam juga dapat menghalang sihir dan makhluk-makhluk halus yang ingin menggangu manusia ( katanya sih...tapi saya tidak percaya dengan tahayul )
2. Cara Rasulullah mengunyah - Rasulullah akan mengunyah sebanyak 40 kali untuk membiarkan makanan itu betul-betul lumat agar perut kita senang memproses makanan itu.
3. Membaca Basmalah
(Bismillahirrahma Nirrahim). Membaca Basmalah sebelum makan untuk mengelakkan penyakit. Kerana bakteria dan racun ada membuat
perjanjian dengan Allah swt, apabila Basmalah dibaca maka bakteria dan racun akan musnah dari sumber makanan itu.
4. Cara Rasulullah minum :
Janganlah kita minum berdiri walaupun ia makruh tetapi ia makruh yang menghampiri kepada haram.
Jangan kita minum dari air yg besar dan kemungkinan orang lain juga akan meminum dari tempat yang sama, sehingga kita tidak memberi sisa air kita ke orang lain. Jangan bernafas sedang kita minum. Kerana apabila kita minum dari air yg
besar, lumrahnya kita akan meneguk air dan dalam proses minum itu, kita tentu akan bernafas dan menghembuskan nafas dari hidung kita. Karena apabila kita hembuskan nafas, kita akan mengeluarkan CO2 iaitu carbon dioxide, yang apabila bercampur dgn air H20, akan menjadi H2CO3, iaitu sama dengan cuka, menyebabkan minuman itu menjadi acid. Jangan meniup
air yg panas, sebabnya sama diatas. Cara minum, seteguk bernafas, seteguk bernafas sehingga habis.
Mengapa Islam menyuruh mencambuk 100 kali orang belum menikah yang berzina, dan merajam sehingga mati org yg sudah berkahwin yang berzina?
Badan manusia akan mengeluarkan sel-sel darah putih atau antibiotik yg dapat melawan penyakit.
Dan sel-sel ini terdapat di daerah tulang belakang, berdekatan dengan sum-sum tulang manusia.
Lelaki yang belum menikah dia akan dapat mengeluarkan beribu-ribu sel ini, manakala lelaki yang sudah menikah hanya dapat menghasilkan 10 unit sel ini sehari, karena sebabnya ialah, karena sel-sel lain akan hilang karena hubungan suami isteri.
Jadi apabila lelaki yang belum menikah didapati salah karena zina hendaklah dicambuk 100 kali.
Ini adalah karena apabila dia dicambuk di belakangnya, suatu hukuman tentang kesakitan itu akan membuatkan penghasilan beribu sel antibiotik yang dapat melawan virus HIV jika ia ada di badannya, dengan itu dapatlah antibiotik melawan virus HIV itu.
Tetapi jika lelaki itu sudah menikah,walaupun dicambuk 100 kali ia akan tetap menghasilkan 10 unit antibodi saja, jadi dengan itu hukumannya dirajam hingga mati agar dia tidak dapat
merebakkan virus HIV itu.
Itulah sedikit banyak inti wejangan yg disampaikan oleh Dr Jamnul Azhar.
Mudah-mudahan ini akan memberi manfaat pada anda sekalian.
1. Cara makan, kenapa kita gunakan tangan? Mengikut cara Rasulullah
S.A.W, beliau akan mencampurkan lauk dan nasi dengan tangan kanannya dan
kemudian membiarkan sebentar, lalu Rasullah saw akan mengambil
sedikit garam menggunakan jari kecilnya, lalu Rasullah saw akan menghisap garam itu. Kemudian barulah Rasulullah makan nasi dan lauknya.
Mengapa? Karena kedua belah tangan kita ada mengeluarkan 3 macam enzim,
tetapi konsentrasi di tangan kanan kurang sedikit dari yg kiri. Ini adalah
karena enzim yg ada di tangan kanan itu merupakan enzim yang dapat menolong proses penghadaman (digestion), ia merupakan the first process of digestion.
Mengapa menghisap garam? Kerana garam adalah sumber mineral dari tanah yg diperlukan oleh badan kita. Dua cecah garam dari jari kita itu adalah sama dgn satu liter air mineral.
Kita berasal dari tanah maka lumrahnya manusia berasal dari bumi (tanah) inilah yg paling berkhasiat untuk kita.
Kenapa garam? Selain dari sebab ia adalah sumber mineral, garam juga adalah penawar yang paling mujarab bagi keracunan, mengikut Dokter di hospital-hospital, the first line of treatment for poisoning adalah dengan memberi Sodium Chloride, iaitu GARAM. Garam juga dapat menghalang sihir dan makhluk-makhluk halus yang ingin menggangu manusia ( katanya sih...tapi saya tidak percaya dengan tahayul )
2. Cara Rasulullah mengunyah - Rasulullah akan mengunyah sebanyak 40 kali untuk membiarkan makanan itu betul-betul lumat agar perut kita senang memproses makanan itu.
3. Membaca Basmalah
(Bismillahirrahma Nirrahim). Membaca Basmalah sebelum makan untuk mengelakkan penyakit. Kerana bakteria dan racun ada membuat
perjanjian dengan Allah swt, apabila Basmalah dibaca maka bakteria dan racun akan musnah dari sumber makanan itu.
4. Cara Rasulullah minum :
Janganlah kita minum berdiri walaupun ia makruh tetapi ia makruh yang menghampiri kepada haram.
Jangan kita minum dari air yg besar dan kemungkinan orang lain juga akan meminum dari tempat yang sama, sehingga kita tidak memberi sisa air kita ke orang lain. Jangan bernafas sedang kita minum. Kerana apabila kita minum dari air yg
besar, lumrahnya kita akan meneguk air dan dalam proses minum itu, kita tentu akan bernafas dan menghembuskan nafas dari hidung kita. Karena apabila kita hembuskan nafas, kita akan mengeluarkan CO2 iaitu carbon dioxide, yang apabila bercampur dgn air H20, akan menjadi H2CO3, iaitu sama dengan cuka, menyebabkan minuman itu menjadi acid. Jangan meniup
air yg panas, sebabnya sama diatas. Cara minum, seteguk bernafas, seteguk bernafas sehingga habis.
Mengapa Islam menyuruh mencambuk 100 kali orang belum menikah yang berzina, dan merajam sehingga mati org yg sudah berkahwin yang berzina?
Badan manusia akan mengeluarkan sel-sel darah putih atau antibiotik yg dapat melawan penyakit.
Dan sel-sel ini terdapat di daerah tulang belakang, berdekatan dengan sum-sum tulang manusia.
Lelaki yang belum menikah dia akan dapat mengeluarkan beribu-ribu sel ini, manakala lelaki yang sudah menikah hanya dapat menghasilkan 10 unit sel ini sehari, karena sebabnya ialah, karena sel-sel lain akan hilang karena hubungan suami isteri.
Jadi apabila lelaki yang belum menikah didapati salah karena zina hendaklah dicambuk 100 kali.
Ini adalah karena apabila dia dicambuk di belakangnya, suatu hukuman tentang kesakitan itu akan membuatkan penghasilan beribu sel antibiotik yang dapat melawan virus HIV jika ia ada di badannya, dengan itu dapatlah antibiotik melawan virus HIV itu.
Tetapi jika lelaki itu sudah menikah,walaupun dicambuk 100 kali ia akan tetap menghasilkan 10 unit antibodi saja, jadi dengan itu hukumannya dirajam hingga mati agar dia tidak dapat
merebakkan virus HIV itu.
Itulah sedikit banyak inti wejangan yg disampaikan oleh Dr Jamnul Azhar.
Mudah-mudahan ini akan memberi manfaat pada anda sekalian.
MANUSIA DIANTARA DUA TANGISAN
Detik waktu bersama kelahiran seorang bayi dihiasi tangisan .Nyaring berkumandang menghiasi telinga si IBU. Merakah tersenyum hatinya gembira penawar sakit dan lesu serta berjuang dengan Maut. Lalu mulailah sebuah kehidupan yang baru didunia dengan sebuat resiko pahit dan kejamnya kehidupan ini, bercucurkan darah dan tetes air mata.
Air mata adakalanya penyubur hati, penawar duka. Adakalanya buih Kekecewaan yang menhimpit perasaan dan kehidupan ini. Air mata seorang manusia hanyalah umpama air kotor diperlimpahan. Namun setetes air mata kerana takut kepada ALLAH persis permata indahnya gemerlapan terpancar dari segala arah dan penjuru. Penghuni Syurga ialah mereka yang banyak mencucurkan air mata Demi ALLAH dan Rasulnya bukan semata karena harta dan kedudukan.
Pencinta dunia menangis kerana dunia yang hilang. Perindu akhirat menangis kerana dunia yang datang.
Alangkah sempitnya kuburku, keluh seorang batil, Alangkah sedikitnya hartaku, kesal si hartawan (pemuja dunia).
Dari mata yang mengitai setiap kemewahan yang mulus penuh rakus, mengalirlah air kecewa kegagalan. Dari mata yang redup merenung Hari Akhirat yang dirasakan dekat, mengalirkan air mata insaf mengharap kemenangan, serta rindu akan RasulNya.
"Penghuni Syurga itulah orang-orang yang menang." (al- Hasr: 20)
Tangis adalah basahan hidup,justeru:Hidup dimulakan dengan tangis, Dicela oleh tangis dan diakhiri dengan tangis.Manusia sentiasa dalam dua tangisan. Sabda Rasulullah s.a.w. "Ada dua titisan yang ALLAH cintai, pertama titisan darah para Syuhada dan titisan air mata yang jatuh kerana takutkan ALLAH."
Nabi Muhammad bersabda lagi : "Tangisan seorang pendosa lebih ALLAH cintai daripada tasbih para wali."
Oleh karena itu berhati-hatilah dalam tangisan, kerana ada tangisan yang akan mengakibatkan diri menangis lebih lama dan ada tangisan yang membawa bahagia untuk selama-lamanya. Seorang pendosa yang menangis kerana dosa adalah lebih baik daripada Abid yang berangan-angan tentang Syurga mana kelak ia akan bertakhta.
Nabi bersabda : "Kejahatan yang diiringi oleh rasa sedih, lebih ALLAH sukai dari satu kebaikan yang menimbulkan rasa takbur."
Ketawa yang berlebihan tanda lalai dan kejahilan. Ketawa seorang ulamak dunia hilang ilmu, hilang wibawanya. Ketawa seorang jahil, semakin keras hati dan perasaannya.
Nabi Muhammad bersabda : "Jika kamu tahu apa yang aku tahu nescaya kamu banyak menangis dan sedikit ketawa."
Seorang Hukama pernah bersyair : "Aku heran dan terperanjat,melihat orang ketawa kerana perkara-perkara yang akan menyusahkan,lebih banyak daripada perkara yang menyenangkan."
Salafussoleh menangis walaupun banyak beramal,takut-takut tidak Diterima ibadatnya, kita ketawa walaupun sedar diri kosong daripada amalan.
Lupakah kita
Nabi pernah bersabda : "Siapa yang berbuat dosa dalam ketawa, akan dicampakkan ke neraka dalam keadaan menangis."
Kita gembira jika apa yang kita idamkan tercapai. Kita menangis kalau Yang kita cita-citakan terabai. Nikmat disambut ria, kedukaan menjemput duka.
Namun,Allah s.a.w. telah berfirman : " Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu,dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu,pada hal ianya amat buruk bagimu. ALLAH mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (AL BAQARAH : 216)
Bukankah Nabi pernah bersabda: "Neraka dipagari nikmat, syurga dipagari bala."
Menangislah wahai diri, agar senyumanmu banyak di kemudian hari. Kerana engkau belum tahu, nasibmu dihizab kanan atau hizab kiri.Di sana, lembaran sejarahmu dibuka satu persatu, menyemarakkan rasa malu berabad-abad lamanya bergantung kepada syafaat Rasulullah yang dikasihi Tuhan. Kenangilah, sungai-sungai yang mengalir itu banjiran air mata Nabi Adam yang menangis bertaubat, maka suburlah dan sejahteralah bumi kerana terangkatnya taubat. Menangislah seperti Saidina Umar yang selalu memukul dirinya dengan berkata:
"Kalau semua masuk ke dalam syurga kecuali seorang, aku takut akulah orangitu."
Menangislah sebagaimana Ummu Sulaim apabila ditanya : "Kenapa engkau menangis?" "Aku tidak mempunyai anak lagi untuk saya kirimkan ke medan Perang," jawabnya.
Menangislah sebagaimana Ghazwan yang tidak sengaja terpandang wanita rupawan. Diharamkan matanya dari memandang ke langit seumur hidup,lalu berkata : "Sesungguhnya engkau mencari kesusahan dengan pandangan itu."
Ibnu Masud r.a.berkata : "Seorang yang mengerti al Quran dikenali waktu malam ketika orang lain tidur,dan waktu siangnya ketika orang lain tidak berpuasa, sedihnya ketika orang lain sedang gembira dan tangisnya di waktu orang lain tertawa. Diamnya di waktu orang lain berbicara, khusuknya di waktu orang lain berbangga, seharusnya orang yang mengerti al Quran itu tenang,lunak dan tidak boleh menjadi seorang yang keras, kejam, lalai, bersuara keras dan marah.
Tanyailah orang-orang soleh mengapa dia tidak berhibur : "Bagaimana hendak bergembira sedangkan mati itu di belakang kami,kubur di hadapan kami,kiamat itu janjian kami, neraka itu memburu kami dan perhentian kami ialah ALLAH."
Menangislah di sini, sebelum menangis di sana!!!.............
Wallahu a'lam...
RIZAL JALAL
Air mata adakalanya penyubur hati, penawar duka. Adakalanya buih Kekecewaan yang menhimpit perasaan dan kehidupan ini. Air mata seorang manusia hanyalah umpama air kotor diperlimpahan. Namun setetes air mata kerana takut kepada ALLAH persis permata indahnya gemerlapan terpancar dari segala arah dan penjuru. Penghuni Syurga ialah mereka yang banyak mencucurkan air mata Demi ALLAH dan Rasulnya bukan semata karena harta dan kedudukan.
Pencinta dunia menangis kerana dunia yang hilang. Perindu akhirat menangis kerana dunia yang datang.
Alangkah sempitnya kuburku, keluh seorang batil, Alangkah sedikitnya hartaku, kesal si hartawan (pemuja dunia).
Dari mata yang mengitai setiap kemewahan yang mulus penuh rakus, mengalirlah air kecewa kegagalan. Dari mata yang redup merenung Hari Akhirat yang dirasakan dekat, mengalirkan air mata insaf mengharap kemenangan, serta rindu akan RasulNya.
"Penghuni Syurga itulah orang-orang yang menang." (al- Hasr: 20)
Tangis adalah basahan hidup,justeru:Hidup dimulakan dengan tangis, Dicela oleh tangis dan diakhiri dengan tangis.Manusia sentiasa dalam dua tangisan. Sabda Rasulullah s.a.w. "Ada dua titisan yang ALLAH cintai, pertama titisan darah para Syuhada dan titisan air mata yang jatuh kerana takutkan ALLAH."
Nabi Muhammad bersabda lagi : "Tangisan seorang pendosa lebih ALLAH cintai daripada tasbih para wali."
Oleh karena itu berhati-hatilah dalam tangisan, kerana ada tangisan yang akan mengakibatkan diri menangis lebih lama dan ada tangisan yang membawa bahagia untuk selama-lamanya. Seorang pendosa yang menangis kerana dosa adalah lebih baik daripada Abid yang berangan-angan tentang Syurga mana kelak ia akan bertakhta.
Nabi bersabda : "Kejahatan yang diiringi oleh rasa sedih, lebih ALLAH sukai dari satu kebaikan yang menimbulkan rasa takbur."
Ketawa yang berlebihan tanda lalai dan kejahilan. Ketawa seorang ulamak dunia hilang ilmu, hilang wibawanya. Ketawa seorang jahil, semakin keras hati dan perasaannya.
Nabi Muhammad bersabda : "Jika kamu tahu apa yang aku tahu nescaya kamu banyak menangis dan sedikit ketawa."
Seorang Hukama pernah bersyair : "Aku heran dan terperanjat,melihat orang ketawa kerana perkara-perkara yang akan menyusahkan,lebih banyak daripada perkara yang menyenangkan."
Salafussoleh menangis walaupun banyak beramal,takut-takut tidak Diterima ibadatnya, kita ketawa walaupun sedar diri kosong daripada amalan.
Lupakah kita
Nabi pernah bersabda : "Siapa yang berbuat dosa dalam ketawa, akan dicampakkan ke neraka dalam keadaan menangis."
Kita gembira jika apa yang kita idamkan tercapai. Kita menangis kalau Yang kita cita-citakan terabai. Nikmat disambut ria, kedukaan menjemput duka.
Namun,Allah s.a.w. telah berfirman : " Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu,dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu,pada hal ianya amat buruk bagimu. ALLAH mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (AL BAQARAH : 216)
Bukankah Nabi pernah bersabda: "Neraka dipagari nikmat, syurga dipagari bala."
Menangislah wahai diri, agar senyumanmu banyak di kemudian hari. Kerana engkau belum tahu, nasibmu dihizab kanan atau hizab kiri.Di sana, lembaran sejarahmu dibuka satu persatu, menyemarakkan rasa malu berabad-abad lamanya bergantung kepada syafaat Rasulullah yang dikasihi Tuhan. Kenangilah, sungai-sungai yang mengalir itu banjiran air mata Nabi Adam yang menangis bertaubat, maka suburlah dan sejahteralah bumi kerana terangkatnya taubat. Menangislah seperti Saidina Umar yang selalu memukul dirinya dengan berkata:
"Kalau semua masuk ke dalam syurga kecuali seorang, aku takut akulah orangitu."
Menangislah sebagaimana Ummu Sulaim apabila ditanya : "Kenapa engkau menangis?" "Aku tidak mempunyai anak lagi untuk saya kirimkan ke medan Perang," jawabnya.
Menangislah sebagaimana Ghazwan yang tidak sengaja terpandang wanita rupawan. Diharamkan matanya dari memandang ke langit seumur hidup,lalu berkata : "Sesungguhnya engkau mencari kesusahan dengan pandangan itu."
Ibnu Masud r.a.berkata : "Seorang yang mengerti al Quran dikenali waktu malam ketika orang lain tidur,dan waktu siangnya ketika orang lain tidak berpuasa, sedihnya ketika orang lain sedang gembira dan tangisnya di waktu orang lain tertawa. Diamnya di waktu orang lain berbicara, khusuknya di waktu orang lain berbangga, seharusnya orang yang mengerti al Quran itu tenang,lunak dan tidak boleh menjadi seorang yang keras, kejam, lalai, bersuara keras dan marah.
Tanyailah orang-orang soleh mengapa dia tidak berhibur : "Bagaimana hendak bergembira sedangkan mati itu di belakang kami,kubur di hadapan kami,kiamat itu janjian kami, neraka itu memburu kami dan perhentian kami ialah ALLAH."
Menangislah di sini, sebelum menangis di sana!!!.............
Wallahu a'lam...
RIZAL JALAL
Langganan:
Postingan (Atom)
Waktu
Blog Archive
-
▼
2010
(116)
-
▼
September
(11)
- Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal
- Sekaranglah Waktunya Kita Memimpin Perubahan Di Ne...
- Meraih Kesuksesan Membangun Peradaban
- Kewajiban Menjaga Kemenangan
- Membangun Ruh Khairu Ummah
- Mewujudkan Hakikat Taqwa
- Fitrah = Nurani vs Zhulmani
- Untuk Misi Inilah Kita Ditarbiyah Selama Ramadhan
- Ramadhan, untuk Esok yang Lebih Cerah
- Kembali Ke Fitrah: Titik Tolak Menuju Masyarakat M...
- Melestarikan Nilai-Nilai Ramadhan
-
▼
September
(11)